Membaca Buku Pengayaan
Rangkuman Buku 4 Ginjal di Tubuhku
IDENTITAS BUKU :
Judul : 4 Ginjal di Tubuhku
Pengarang : Basyrah Nasution
Penerbit : Penerbit Qanita
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 203 halaman
Buku ke- : 1
SINOPSIS :
Buku ini bercerita tentang pengalaman si penulis (Busyrah Nasution) dalam menjalani penyakit gagal ginjal, termasuk mengenai pengobatannya cuci darah maupun cangkok ginjal (transplantasi). Dapat menjadi bahan inspirasi bagi semua pasien gagal ginjal yang saat ini sedang menjalani cuci darah ataupun cangkok ginjal.
Penulis buku ini adalah orang yang sudah membuktikan pentingnya sebuah perjuangan. Termasuk perjuangan melawan penyakit. Ancaman untuk selalu cuci darah, ancaman bengkak, dan ancaman menjalar ke mana mana membuat penderitaannya tersiksa lahir dan batin. Apalagi cuci darahnya Kian lama Kian sering. Meski cuci darah bisa membuat nafas lega dan badan segar kembali, cuci darah terus-menerus membuat kualitas hidup sangat rendah.
Setelah divonis penyakit gagal ginjal tahap akhir, berita ini sangat mengejutkan bahkan mungkin mengherankan bagi Basyarah (penulis) dan keluarga. Mungkin mereka sok dan bingung sebentar tetapi mereka tidak berputus asa. Selalu berada dalam jalur yang benar dan rasional. Segera merencanakan pengobatan yang terbaik pilihannya yaitu cangkok ginjal.
Transplantasi yang dilakukan penulis ini tidaklah berjalan dengan mulus. Transplantasi pertama dilakukan di negeri cina dan alhamdulillah cangkok ginjal berhasil dengan baik, dan kemudin penulis bisa menjalani kehidupan pasca-cangkok ginjal, dengan kualitas hidup tinggi. Kembali bekerja dan semua aktivitas kehidupan lainnya.
Kemudian, badai kehidupan kedua datang menerjang. Setelah beberapa tahun menikmati kehidupan normalnya dengan cangkok ginjal, terjadi komplikasi. Terjadi penolakan kronis terhadap ginjal cangkok. Fungsi ginjal mulia menurun secara bertahap. Segala upaya sudah dilakukan untuk mempertahankan ginjal cangkok. Tapi tidak berhasil. Fungsi ginjal terus menurun, ditambah berbagai komplokasi lain. Gangguan jantung dan paru menambah penderitaan. belum lagi serangan infeksi yang datang bertubi-tubi.
Oleh karena dianggap ginjal cangkok sudah tidak berfungsi sama sekali penulis pun kembali harus menjalani cuci darah. Semua pengobatan dijalani dengan tekun. Pada masa menjalani cuci darah ini penulis dan istri sempat berliburan ke Eropa. sesuatu yang jarang dilakukan oleh pasien cuci darah di Indonesia.
Setelah melakukan beberapa kali cuci darah kemudian penulis pun merencanakan cangkok ginjal kedua yang dilakukan di Indonesia. Donor ginjal berasal dari keluarga penulis yaitu Sang adik. Setelah melalui persiapan yang memadai operasi cangkok ginjal pun dilaksanakan. Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Dan sekarang penulis menikmati kehidupan dengan ginjal baru yang kedua. Cangkok ginjal dengan donor dari keluarga keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan dengan donor dari orang lain.

Komentar
Posting Komentar