PROPOSAL USAHA
PROPOSAL USAHA
PENDIRIAN USAHA SATE BANDENG DALAM MELESTARIKAN MAKANAN KHAS DAERAH
BANTEN
Disusun oleh :
Nisrina Lutfiani Latifa (29)
Kelas : XI MIA 6
Kelompok : 8
SMA NEGERI 2 KS CILEGON
JL.SEMANG RAYA NO. 1 KOMPLEKS KS – CILEGON
Tahun Ajaran 2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan yang banyak ragam suku bangsanya. Indonesia terbentuk dari berbagai macam bentuk suku bangsa yang memiliki berbagai macam kenekaragaman. Keanekaragaman di Indonesia meliputi: suku bangsa, lagu daerah, rumah adat, pakian adat, makanan daerah, upacara adat dan bahasa daerah. Yang paling mencolok dari kenekaragaman di Indonesia adalah makanan daerahnya. Karena indonesia merupakan negara kepulauan dan terdiri dari suku bangsa yang banyak, maka indonesia memiliki makanan khas yang bermacam-macam. Dan tidak sedikit pula makanan khas daerah Indonesia yang terkenal hingga mancanegara.
Makanan Khas Daerah adalah makanan yang pada umumnya dikonsumsi pada sebuah daerah. Biasanya, karekter yang berada pada sebuah daerah akan dapat mencerminkan sebuah karakter yang dimiliki oleh masyarakatnya. Pada umumnya, masyarakat yang berada di daerah pegunungan akan dapat dengan mudah menghasilkan bahan pangan sayur sehingga makanan daerahnya akan menggunakan sayur dengan suhu hangat dengan rasa pedas sehingga akan menghangatkan badan. Di daerah pantai, maka olahan makanannya banyak menggunakan hasil laut. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kontak dengan orang dari daerah luar semakin tinggi sehingga melahirkan banyak masakan campuran yang ikut memperkaya produk makanan khas daerah.
Makanan Khas Daerah memiliki kandungan gizi dan manfaat yang beragam, sesuai dengan bahan baku, bahan tambahan, dan teknik pengolahan yang digunakan. Bahan utama produk makanan khas daerah adalah nabati/hewani. Kandungan nutrisi utamanya adalah karbohidra, protein, lemak, vitamin, dan air. Jumlah komponen-komponen tersebut berbeda-beda terhadap masing-masing bahan tergantung pada susunan, kekerasan, tekstur, cita rasa, dan warna.
Salah satu makanan khas daerah Banten adalah SATE BANDENG. Sate di nusantara pada umunya menggunakan daging ayam, sapi atau kerbau sebagai bahan dasarnya. Namun, di Banten ada satu sate yang unik karena tidak meggunakan daging ayam, sapi ataupun kerbau sebagai bahan utamanya. Kuliner inipun menjadi salah satu ciri khas kuliner dari Banten. Ikan Bandeng juga merupakan ikan yang memiliki kandungan gizi yang besar. Kandungan protein pada ikan bandeng sebesar 20,38% sehingga, ikan bandeng ini digolongkan dalam daftar makanan bergizi. Bandeng dapat mencukupi kebutuhan protein yang diperlukan tubuh dan membantu perkembangan otak dan memori anak-anak, mencegah peyakit jantung, menurunkan kadar kolesterol tinggi, menyehatkan mata, dan mengurangi depresi. Sate Bandeng bisa tahan hingga mencapai tiga hari, hal ini membuat para pecinta kuliner sering menjadikan sate ini sebagai buah tangan untuk keluarga atau kerabat dirumah.
1.2 Visi dan Misi
Visi : Mengenalkan makanan khas Banten yaitu Sate Bandeng dan menjadikan makanan khas Sate Bandeng sebagai makanan yang diminati dan dapat diterima dikalangan masyarakat.
Misi :
• Menambah wawasan atau pengetahuan tentang makanan khas daerah
• Menarik minat konsumen untuk merasakan produk yang penulis buat
• Meningkatkan kualitas dan cita rasa makanan khas daerah
• Mengutamakan kualitas dalam pelayanan sehingga konsumen merasa puas
1.3 Tujuan
Tujuan dari usaha pembuatan makanan khas daerah ini adalah :
• Mendapatkan keuntungan
• Membuka lapangan pekerjaan
• Membantu mempertahankan dan mengenalkan makanan tradisional agar tetap dikenal oleh masyarakat.
1.4 Analisa Peluang Usaha
Menganalisis peluang usaha sangat penting dalam melakukan pemasaran karena seorang wirausaha harus bisa mengidentifikasi apakah produk yang dipasarkan sesuai dengan daerahnya atau tidak. Sehubung dengan pembuatan Sate Bandeng, produk ini sangat diminati oleh masyarakat, baik kalangan anak-anak, orang dewasa, ataupun orang tua, karena Sate Bandeng memiliki cita rasa yang sangat enak, gurih dan juga tanpa duri. Oleh karena itu, produk yang penulis buat ini guna membuka peluang usaha yang diminati banyak masyarakat serta melestarikan makanan tradisional.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Jenis Produk
Jenis produk yang akan dibuat yaitu makanan berbahan dasar Ikan Bandeng yang dimodifikasi menjadi Sate Bandeng yang dihilangkan durinya, dagingnya dibumbui dan dimasukkan kembali ke kulitnya, lalu ditusuk atau dijepit tusukan tangkai bambu, kemudian dibakar di atas arang. Sate Bandeng ini banyak disukai oleh masyarakat karena sate bandeng memiliki cita rasa yang enak, kaya akan rempah-rempah, dan kuat rasa bumbunya. Sate Bandeng juga memiliki kandungan gizi yang sangat baik, mulai dari karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh.
Sate Bandeng bisa dinikmati dengan nasi ataupun tidak dengan nasi. Sate memiliki cita rasa yang khas yang muncul dari proses pembakaran yang dilakukan. Begitu juga dengan Sate Bandeng khan Banten, racikan rempah-rempah dalam ikan Bandeng sangat terasa kenikmatannya. Bakaran dari daging ikan Bandeng yang dijadikan sate tidak begitu terasa amis seperti olahan ikan lainnya. Sate Bandeng sangat nikmat apabila dinikmati selagi hangat. Makanan khas Banten ini juga dapat dijadikan oleh-oleh yang menarik dan pantas untuk dibawa pulang.
2.2 Strategi Pasar
Agar rencana mendirikan usaha ini berjalan dengan apa yang kita harapkan, upaya yang dilakukan dalam melakukan strategi pasar adalah sebagai berikut:
• Segmenting
Segmenting pasar adalah dengan menjadikan pembeli sebagai target yang akan dicapai, produk yang harus penulis buat adalah produk yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.
• Targeting
Target pasar yang penulis sasarkan adalah pada kalngan masyarakat tempat tinggal, kerabat penulis, teman-teman penulis, serta warung-warung kecil.
• Positioning
Agar produk penulis ini mudah dikenali oleh masyarakat penulis berinovasi dengan cara menambahkan variasi level kepedasan yaitu seperti original, level 1, elvel 2, dan level 3, sehingga dari semua kalangan masyarakat seperti anak anak bisa mengkonsumsi Sate Bandeng.
2.3 Analisis SWOT sebagai Kelayakan Usaha
Analisis SWOT sebagai kelayakan usaha yaitu sebagai acuan untuk menghadapi persaingan dalam bidang usaha. Setiap kegiatan untuk memulai usaha penulis harus mengukur kemampuan penulis terhadap lingkungan atau pesaing melalui SWOT.
• Kekuatan (Strength)
1. Produk ini memiliki kualitas yang cukup tinggi
2. Harga terjangkau sesuai dengan harga pasaran
3. Bahan baku mudah didapatkan
4. Tidak mengandung bahan pengawet
• Kelemahan (Weakness)
1. Tidak tahan lama
2. Produk mudah ditiru
3. Harga bahan baku tidak setabil
• Peluang (Oportunity)
1. Bisa disorder melalui online
2. Menjadi buah tangan (oleh-oleh)
3. Masih belum ada sate bandeng yang dimodifikasi dengan beragam tingkat kepedasan
• Ancaman (Threath)
1. Pesaing tidak sehat
2. Banyak penjual makanan olahan lainnya
3. Banyaknya penjual sate bandeng
4. Pesaingan harga
BAB III
MANAGEMEN PRODUKSI
3.1 Proses Produksi
Kegiatan yang penulis lakukan dalam kegiatan produksi, yaitu :
1. Proses produksi dilakukan dengan rangkaian kegiatan yang memperhatikan kehigienisan guna terciptanya kepercayaan terhadap konsumen akan produk yang penulis pasarkan.
2. Mengembangkan ide pembuatan produk dengan membaca kebutuhan konsumen terhadap sebuah produk yang sedang populer yaitu kuliner.
3. Melalui bagian produksi, penulis mulai menentukan bahan baku penjunjang selain bahan baku utama dalam hal lain, penulis melakukansurvey ke pasar guna mendapatkan harga yang lebih kompetitifndasar pasar.
3.2 Bahan Baku
Dalam proses produksi penulis menggunakan bahan baku rincian sebagai berikut :
|
No |
Nama Bahan |
Banyaknya |
Harga Satuan |
Harga Total |
|
1. |
Ikan Bandeng |
10 kg (30 ikan ) |
Rp. 25.000/kg Rp. 8.333 /ekor |
Rp. 250.000 Rp. 250.000 |
|
2. |
Kelapa Parut |
15 butir |
Rp. 5.000 |
Rp. 75.000 |
|
3. |
Telur |
2 kg |
Rp. 23.000 |
Rp. 46.000 |
|
4. |
Bawang Merah |
1 kg |
Rp. 25.000 |
Rp. 25.000 |
|
5. |
Bawang Putih |
1 kg |
Rp. 32.000 |
Rp. 32.000 |
|
6. |
Bumbu Dapur (merica, ketumbar, lengkuas, jahe, kunyit) |
1 kg |
Rp. 50.000 |
Rp. 50.000 |
|
7. |
Gula, gula merah
Garam, dan Santan |
- |
Rp. 40.000 |
Rp. 40.000 |
|
8. |
Cabai Merah |
1 kg |
Rp. 80.000 |
Rp.80.000 |
|
9. |
Cabai rawit |
500 g |
Rp. 45.000 |
Rp. 45.000 |
|
Total |
Rp. 643.000 |
|||
Table 1.1 Daftar Bahan Baku
3.3 Perlatan Dan Perlengkapan
3.3.1 Peralatan
Dalam kegiatan produksi penulis, peralatan dan perlengkapan yang penulis gunakan sebagai berikut :
|
No |
Nama Barang |
Banyaknya |
|
1. |
Kukusan |
2 |
|
2. |
Alat pencabut duri |
4 |
|
3. |
Blender |
2 |
|
4. |
Panggangan |
1 |
|
5. |
Kompor 2 api |
1 |
|
6. |
Baskom |
3 |
|
7. |
Pisau |
4 |
Table 1.2 Daftar Peralatan
3.3.2 Perlengkapan
|
No |
Nama barang |
Banyaknya |
Harga Satuan |
Harga Total |
|
1. |
Label |
15 lembar |
Rp. 3.000 |
Rp. 45.000 |
|
2. |
Box kemasan |
30 box |
Rp. 2.500 |
Rp. 75.000 |
|
3. |
Daun pisang |
2 ikat |
Rp. 15.000 |
Rp. 30.000 |
|
Total |
Rp. 150.000 |
|||
Table 1.3 Daftar perlengkapan
3.3.3 Biaya lain-lain
|
No |
Nama Biaya |
Jumlah |
|
1. |
Isi Ulang Gas |
Rp. 16.000 |
|
2. |
Air (PDAM) |
Rp. 25.000 |
|
3. |
Transportasi |
Rp. 15.000 |
|
Total |
Rp. 56.000 |
|
3.4 Cara Pembuatan
1. Siapkan semua bahan dan alat yang dibutuhkan
2. Cuci dan bersihkan ikan bandeng, buang kotoranya melalui bagian leher, lalu pukul pelan-pelan seluruh badan ikan sampai lunak, keluarkan daging dan tulangnya lewat bagian ekor, tekan terus kea rah dalam ikan
3. Posisikan ikan bagian dalam sudah diluar bersihkan bagian dalam ini dari daging ikannya.jika kulit bagian dalam ikan bandeng sudah bersih, lalu balikan kembali kulit ikan bandneg dengan posisi aslinya.
4. Daging ikan yang sudah dikeluarkan dari kulitnya, kemuadian di masak hinggaberubah warna, angkat dan dinginkan. Lalu cabut duri kecil-kecilnya. Setelah bebas dari duri, haluskan dengan blender hingga halus.
5. Panaskan santan kental, stelah mendidih matikan api dan ambil bagian santan yang mengembang. Maksukkan kelapa parut sangrai, gula merah yang sudah diiris halus, garam, ketumbar, jahe,lengkuas, kunyit bawang goring yang sudah halus dan 10 sendok makan santan kental. Aduk sampai merata.( Jika ingin sate bandengnya pedas bisa ditambahkan cabai rawit)
6. Setelah merata, masukkan telur satu persatu aduk lagi hingga rata.
7. Masukkan adonan kedalam kulit ikan bandeng yang sudah dibersihi tadi, lalu bungkus dengan daun pisang.
8. Kemudian kukus selama 15 menit. Setelah dikukus, pangganglah ikan bandeng. Harus sabar memanggang ikan bandeng, jangan lupa untuk dibolak-balik dan jangan sampai gosong.
BAB IV
RANCANGAN ANGGARAN
4.1 Modal
Modal yang penulis keluarkan dalam sekali produksi adalah sebagai berikut :
Total biaya bahan baku = Rp. 643.000
Total biaya perlengkapan = Rp. 150.000
Total biaya lain-lain = Rp. 56.000
Modal = Total biaya bahan baku + total biaya perlengkapan + total biaya lain – lain
= Rp. 643.000 + Rp. 150.000 + Rp. 56.000
= Rp. 849.000
Total pengeluaran yang digunakan dalam satu kali produksi yang menghasilkan 30 produk dengan modal pengeluaran Rp. 849.000.
4.2 Penentuan Harga Jual
Harga Pokok Produksi = Total Biaya : Hasil Produksi
= Rp. 849.000 : 30 pcs
= Rp. 28.300
Harga jual = harga pokok + laba yang diinginkan
= Rp. 28.300 + Rp. 4.700
= Rp. 33.000
Jadi, harga jual sate bandeng per box nya adalah Rp. 33.000
4.3 Perhitungan Laba/Rugi
Laba = ( hasil produksi x harga jual ) – modal
= ( 30 x Rp. 33.000) – Rp. 849.000
= Rp. 141.000
Persentase Laba =Laba : Modal x 100%
= Rp. 141.000 : Rp. 849.000 x 100%
= 16,6%
Persentase dari laba bersih yang didapat dalam satu kali produksi adalah 16,6%.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Demikian proposal usaha yang penulis buat. Adapun tujuan proposal ini yaitu untuk memperkenalkan lebih detail tentang produk kami dan menambah wawasan tentang makanan khas Banten yaitu Sate Bandeng. Isi dari proposal ini yaitu terdiri dari perkenalan produk, cara pembuatan produk, rincian biaya yang dibutuhkan dalam berproduksi, hingga analisis SWOT produk. Semoga apa yang tertulis dalam proposal ini dapat dimengerti dengan mudah.
5.2 Saran
setelah terbentuknya proposal ini yang berjudul “PROPOSAL PENDIRIAN USAHA SATE BANDENG DALAM MELESTARIKAN MAKANAN KHAS BANTEN” penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih banyak kekurangan baik dalam segi bahasa dan khususnya isi dari proposal ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.


Komentar
Posting Komentar